in ,

Menanam Padi Menggunakan Gelas Plastik dan Paralon dengan Tehnik Hidroganik

Dengan Tehnik ini Menanam Padi kini ga harus di sawah dan ga pakai macul macul lagi! Panennya bisa 4x Lipat dari Tehnik Konvensional!

Menanam Padi di lahan terbatas menjadi salah 1 alternatif yang bisa dilakukan untuk menuju kemandirian pangan, kamu sudah pernah dengar belum tehnik menanam padi menggunakan paralon dan gelas plastik? kali ini gudindo mau share seputar tehnik hidroganik padi dan cara instalasinya. simak langsung yuk.

Tanam padi hidroganik

Teknik bercocok tanam dengan memanfaatkan lahan sempit kini semakin giat dikembangkan karena memiliki potensi yang tak kalah dari petak sawah atau kebun. Bahkan, tanaman yang dibudidayakan di tanah sempit tak lagi melulu sayuran atau buah-buahan melainkan padi seperti di sawah kebanyakan

Advertisement

Asal Usul Tehnik Menanam Padi di Lahan Sempit

Ya, teknik sangar menanam padi di lahan sempit itu berhasil dikembangkan oleh Basiri, seorang petani di Malang, Jawa Timur, dengan menggunakan media tanam berupa gelas plastik bekas dan pipa paralon. Meskipun terlihat simple, namun teknik bercocok tanam yang dinamakan hidroganik tersebut, ternyata bisa untuk menyuplai beras secara mandiri loh! Keren kan? Bisa nih dipelajari di rumah.

Teknik menanam padi dengan menggunakan gelas plastik bekas minuman dan pipa paralon pertama kali dikembangkan oleh Basiri. Petani asal Desa Kanigoro, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, itu, awalnya harus melewati serangkaian uji coba dan kegagalan berkali-kali saat awal-awal mencoba menanam.

Advertisement

Berbekal situs informasi pertanian organik berbahasa Inggris di luar negeri, Basiri dengan tekun bereksperimen hingga akhirnya menemukan formula tanam yang tepat. Ia melubangi paralon ukuran 4 dengan diameter 8 sentimeter untuk tempat gelas plastik, kemudian mulai menanam padi di atasnya dengan jarak antar lubang sekitar 25 sentimeter.

Proses Awal Tanam Padi Metode Hidroganik

Hasilnya tak kalah dengan padi yang dikembangkan di areal persawahan luas

Tanaman padi ditanam di dalam cup plastik kompos dan sekam bakar, diletakkan di pipa-pipa peralon yang teraliri air dan nutrisi dari sumber air kolam ikan.

Tanaman mendapatkan nutrisi dari pupuk kompos yang terdapat di media tanam, selain itu nutrisi juga diperoleh melalui kotoran ikan dari kolam yang disalurkan melalui pipa-pipa atau peralon. Inilah simbiosis mutualisme antara ikan dan tanaman, ikan mendapatkan makanan dari daun-daunan yang sudah layu sedangkan tanaman mendapatkan nutrisi dari kotoran ikan.

Advertisement

Media tanam padi hidroganik berupa cup awalnya dilubangi, dan dibagian bawahnya diberi kain agar lebih mudah penyerapan air oleh tanaman. Kotoran-kotora ikan lama kelamaan juga akan menempel pada media tanam, kotoran inilah yang akan menjadi nutrisi bagi tanaman.

Karena itulah tidak perlu pupuk kimia atau pestisida dalam prosesnya, bahkan apabila menggunakan pestisida justru akan mencemari dan berbahaya untuk ikan di bawahnya.

Basiri menggunakan gelas plastik bekas setinggi 12,5 sentimeter dengan diameter atas 8 sentimeter dan telah diberi lubang di bagian bawah sebanyak 12 titik. Setelah padi berumur tujuh hari, gelas plastik kemudian dipindah ke instalasi pipa paralon. Sebagai media tanam, Basiri menggunakan arang sekam dan bubuk organik dengan perbandingan 1:3 dan tidak menggunakan tanah sama sekali.

Advertisement

Menurut Basiri, setiap anakan trida padi bisa mencapai rata-rata 10-12 buah dan setiap bulitnya menghasilkan sekitar 150-200 butir padi. Jumlah berasnya tentu akan makin banyak jika lahannya semakin luas. Lantaran hasilnya bagus, Basiri pun semakin bersemangat meningkatkan kemampuannya.

Padi hidroganik pertama di Indonesia yang terus dikembangkan

Keberhasilan Basiri menanam padi dengan metode hidroganik tersebut kemudian menarik banyak pihak untuk datang dan belajar pada dirinya. Atas saran para akademisi yang mengunjungi dirinya, ia mengajukan hak paten pada 2017 agar karyanya tersebut tidak dijiplak orang lain.

Dalam pengajuan hak paten tersebut, Basiri menggunakan nama “Padi Hidroponik Organik Basiri”, yang kemudian disebutnya sebagai “Padi Hidroganik”. Basiri pun terus mengembangkan budidaya padi hidroganik tersebut dengan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang.

Advertisement

Bakal menjadi solusi bagi masyarakat untuk berdaulat di bidang pangan

Ke depannya, Busiri berencana akan terus meningkatkan kemampuan dari padi hidroganik temuannya tersebut. Teknik bercocok tanamnya itu bahkan telah dilirik oleh petani di luar Jawa maupun para pengusaha yang ingin mencoba menerapkan metode tersebut di tempat-tempat usahanya.

Basiri juga berharap jika metode hidroganik tersebut bisa diterapkan secara luas, kedaulatan pangan dalam lingkungan keluarga bukanlah menjadi hal yang mustahil untuk dicapai. Terlebih jika dilakukan dalam skala besar, tentu imbasnya akan terasa hingga menjadi kedaulatan pangan secara nasional.

Terobosan inovasi Basiri berupa tanam padi hidroganik di atas memiliki banyak manfaat yang nyata. Tak hanya membantu menguatkan ketahanan pangan, tapi juga itu melestarikan sekaligus mengolah lingkungan dengan cara yang lebih sehat. Terutama di lahan-lahan sempit perkotaan. Apalagi kalau hasilnya melimpah bisa sekalian dijual pula.

One Comment

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan